Tampilkan postingan dengan label Kisah-kisah Inspiratif. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kisah-kisah Inspiratif. Tampilkan semua postingan

Selasa, 26 Oktober 2010

Manusia yang Lebih Jahat dari Fir’aun dan Iblis

Suatu hari Iblis menemui Fir’aun.
Berkata kepada Fir’aun, “Apakah engkau mengenalku ? “.
Fir’aun menjawab, ” Ya ” .
” Engkau telah mengungguliku untuk satu perkara “, ujar Iblis.
” Untuk perkara apa ? “, tanya Fir’aun.
Iblis menjawab, ” Kelancanganmu terhadap Allah dengan mengaku dirimu sebagai Tuhan. Aku kan lebih tua, lebih banyak ilmu dan lebih kuat darimu, namun tidak berani mengatakan hal itu “.
Fir’aun berkilah, ” Ya, kau memang benar, namun aku akan bertobat ” .

” Tenang jangan kau lakukan itu “. sergah Iblis.
” Penduduk Mesir telah menganggapmu sebagai Tuhan. Jika kau tarik kembali pengakuanmu itu, tentu mereka akan lari darimu dan berpihak pada musuh-musuhmu. Mereka pasti akan merampas kerajaanmu sehingga kau menjadi sangat hina “.

Fir’aun berkata, ” Ah ya, kau benar. Tetapi tahukah engkau siapa yang lebih jahat daripada kita dimuka bumi ini ? “.
Iblis menjawab, ” Ya, orang yang dimintai maaf namun tidak memaafkan adalah orang yang lebih jahat daripada aku & kau ” .

sumber:komda-fast.web.id

Selasa, 19 Oktober 2010

KYAI PENUH KAROMAH DAN ISTRI CEREWET

Posted September 27, 2010 by AUGI in Mutiara Nasehat, Muhasabah, Hikmah Islami
Konon, hiduplah seorang kiai yang sangat alim,. Di dalam dirinya jauh dari penyakit hati. Sifat sombong, rakus, iri, dengki, adigang adigung adiguno, dan kikir sedikit pun tak berani menempel dalam relung hatinya.
Sebaliknya, yang selalu terlihat bersinar-sinar menyilaukan seperti sinar lentera di kegelapan malam adalah sifat-sifat utama. Sabar, narimo, tawakkal, jujur, loman, dan ngalah.

Dalam sestiap muthola’ah di serambi masjid kecil di pesantrennya, sang kiai tak henti-hentinya mengingatkan ratusan santri yang berguru padanya. Mereka dinasihatkan mengugemi sifat-sifat keutamaan itu. “Orang itu harus sabar dan ngalah,” kata sang kiai suatu ketika. Kemudian dua sifat utama itu diuraikan dengan penuh kebaikan dan waskita .


Kata kiai, hakikat sabar itu adalah Sejatining Amalan Kang Biso Ngalaf Rahmat (Allah). Sedangkan ngalah, bermakna Ngawula marang gusti Allah. Itu artinya orang bisa ngawula atau menghamba , bahwa tidak ada kekuatan sejati selain kekuasaan itu datangnya dari Allah. Bahwa, manusia itu hanyalah sak dermo. Tak memiliki kekuatan apapun di hadapan Allah Yang Qowiyyu dan Yang Matin.

Kiai ini terus menjelaskan dua sifat mulia ini dengan contoh sehari-hari dimasyarakat. Sementara ratusan santrinya semakin meyakini kemuliaan hati sang kiai.Mereka juga menyaksikan bagaimana setiap hari karomah yang dipancarkan dari diri sang kiai semakin bertambah. Bukan hanya di hadapan santri, karomah ini juga muncul di hadapan makhluk-makhluk lain.

Pernah suatu hari, ketika sang kiai pergi ke hutan, binatang-binatang penghuninya tampak tawadlu’ memberi salam dan hormat pada sang kiai. Bahkan hewan-hewan itu mengantarkan langkahnya sampai kepintu rumah.Begitulah , bila keheningan hari-hari selalu disinari sifat-sifat terpuji, siapa pun bisa menari dengan cahaya Ilahi.

Tapi suatu ketika sang kiai ini tidak seperti biasanya. Beliau tampak termenung di serambi masjid pesantrennya. Sinar karomah yang menyala-nyala tampak redup. Dia tampa sedih.

Melihat kiainya seperti itu, datang seorang santri dan berkata “Kiai.!Beberapa hari ini engkau tampak sedih. Selalu termenung sendiri. Kadangsaya menyaksikan engkau menangis. Saya juga menyaksikan, sekarang tidak lagi hewan-hewan hutan berucap salam kepda kiai. Sesungguhnya apa yangtengah terjadi kiai..?”

Sang kiai berucap “Aku memang sedang bersedih. Ketahuilah santriku, aku sangat khawatir tak bisa mendekati nur Allah. Karena tujuh hari ini, semenjak aku beristrikan nyai (sebutan santri untuk istri kiai), tak seorang pun menguji kesabaranku. Istriku sekarang orangnya penyabar, tawakkal, jujur, dan loman. Tak pernah ada kata kasar yang keluar dari bibirnya. Sebaliknya yang ada hanya kerendahan hati, dia nurut pada saya.” “Sementara nyai yang pertama dulu, sebelum meninggal dunia, dia orangnya cerewet. Sedikit saja saya salah, pasti ditegurnya. Sedikit ada yang tidak sesuai dengan dia, dia pasti marah. Mungkin karena aku jauh dari ujian itu, apa yang engkau saksikan dulu tentang aku lalu sekarang mulaui menjauh dariku.”

Memang benar. Karomah pancaran kemuliaan tak begitu saja muncul dalam diri manusai. Untuk mendapatkan ini, setiap saat kita harus diuji. Ujian bisa datang dari sendiri, dari anak, dan istri, atau lingkungan kita. Bahkan kalau memang ujian itu sebagai jalan menuju kesempurnaan hakikat diri, harusnya tak dihindari. Sebaliknya harus dijalani.Seperti juga kiai kita ini. Beliau bersedih, karena tak pernah lagi diuji.

Lalu dihadapan santri ini, kiai ini berpesan: “Kesempurnaan lelaku sabar, nerima, tawakkal, jujur dan ngalah adalah bertanding dengan lelaku marah, menang-menangan. Maka jangan engkau bersedih hati bila waktunya diuji. Berucaplah Lahaula wala quwwata illa billah. Tidak ada daya dan kekuatan sejati, kecuali dari dan dengan Allah. Insya Allah”

BAGINYA DUA SURGA......!!!!!

Posted October 14, 2010 by abdullah in Mutiara Nasehat
Alkisah, ada seorang pemuda di kota Madinah memiliki akhlak yang luhur, kezuhudan yang tinggi, taat beribadah, dan tidak pernah ketinggalan bersolat jamaah bersama khalifa Umar bin Khattab ra setiap waktu. Berita anak muda ini tersebar keseluruh pelosok kota Madinah, sehingga mendapat pujian dari para sahabat Nabi saw terutama dari khalifah Umar ra.

Anak muda ini tinggal bersama ayahnya yang sudah tua. Ia sangat mencitainya dan taat kepadanya, belum pernah ia meninggalkanya kecuali jika ingin pergi ke masjid untuk bersolat jamaah bersama Amirul Mu’minin Umar bin Khattab ra. Selesai sholat ia segera kembali pulang.

Suatu hari, di saat kembali dari masjid di tengah jalan, ia dipergoki oleh sorang wanita cantik. Wanita itu menggodanya dengan bermacam cara sehigga ia terpersona. Hari berikutnya terjadi hal yang sama, wanita itu menunggunya di depan jalan menuju ke rumahnya. wanita itu menggodanya dan mengajaknya mampir ke rumahnya. Sungguh wanita itu telah bermaksud melakukan perbuatan maksiat dengannya, dan ia pun tergoda syaitan dan bermaksud melakukannya pula dengan wanita itu. Tiba tiba ia melihat tanda tanda kebesaran ayat Allah dalam Al-Qur’an yang berbunyi “Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa bila mereka ditimpa was-was dari Syaitan, mereka ingat kepada Allah, maka ketika itu juga mereka melihat kesalahan-kesalahannya”, surat al a’raf ayat 20


Karena ketakwaanya yang tinggi kepada Allah, ayat itu membuatnya jatuh pingsan ke tanah. Prempuan tadi ketakutan, langsung memanggil tetangganya. Pemuda yang sedang pingsan akhirnya dibawa ke rumah ayahnya. Ia tidak sadar sampai larut malam. Ayahnya sangat binggung sekali. Sebelum adzan subuh, ia baru sadar dari pingsannya. Begitu sadar, sang ayah bertanya kepadanya sebabnya ia pingsan semalam suntuk. Ia bercerita kepada ayahnya apa yang terjadi di malam tadi sehingga ia teringat dengan ayat Al-Qur’an dan jatuh pingsan. Ayahnya bertanya : “Ayat apa gerangan yang kau baca wahai anakku?”. Ia kemudian membaca lagi ayat yang tersebut diatas “Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa bila mereka ditimpa was-was dari Syaitan, mereka ingat kepada Allah, maka ketika itu juga mereka melihat kesalahan-kesalahannya”. Begitu selesai membacanya ia jatuh ke tanah dan kali ini ia bukan pingsan, melainkan meninggal dunia seketika.


Berita wafatnya pemuda tadi tersiar ke seluruh kota Madinah, hingga terdengar oleh Umar bin Khattab ra. Beliau pun segera pergi ke rumah ayah anak muda tadi untuk mengucapkan ta’ziah (bela sungkawa). Tapi sayang beliau terlambat tidak mendapatkan jenazahnya. Ia sudah dikubur. Umar pun tidak menghilangkan kesempatannya. Ia langsung pergi ke kuburannya. Setelah solat janazah di kuburan anak muda tadi, beliau berkata di hadapan kuburannya “Wahai Fulan, barang siapa yang takut kepada Allah maka baginya dua surga” surat al Rahman 46. Subahanllah, beberapa saat setelah umar membacakan ayat itu terdengar suara anak muda tadi dari dalam kubur berkata: “Wahai Umar!, Aku telah diberikan Allah kedua duanya di surga dua kali” *
40865_144935092193351_100000305840965_300484_4142512_s.jpg

Wallahua’lam

Sumber: Tafsir Ibnu Kastir

Senin, 18 Oktober 2010

Kisah seorang Nelayan dan Seekor Ikan

Posted July 9, 2010 by Nadhir al Hasan Shiddiq

Oleh : Musthafa Shadiq ar-Rafi’I ( Dari Silsilah Hikayat Hawa )

Ahmad Ibn Miskin Rohimahullah, seorang Tabi’in besar menceritakan kisah seekor ikan, beliau berkata : Ada seorang laki-laki yang bernama Abu Nashr as Shayyad , ia hidup bersama dengan Istri dan seorang putra dalam keadaan sangat fakir . Ia berjalan di jalan dalam keadaan bingung , dikarenakan istri dan putranya menangis kelaparan. Maka lewatlah ia dihadapan salah seorang Syaikh kaum muslimin – yaitu Ahmad Ibn Miskin dan ia berkata kepada Syaikh tersebut: “ Aku kelelahan .” maka berkatalah Syaikh tersebut kepadanya: “ Ikutilah aku ke laut . “

Maka keduanya pun pergi ke Laut , kemudian Syaikh tersebut berkata kepadanya : “ Sholatlah dua raka’at ! “ . Maka ia pun sholat . Kemudian Syaikh tersebut berkata : “ Ucapkanlah “ Bismillah” . Kemudian melemparkan jaring ke laut . Ketika ditarik , jaring tersebut berisi satu ikan yang sangat besar.

Berkatalah Syaikh tersebut : “Juallah , ikan tersebut, dan belilah Makanan untuk keluargamu. “ Maka ia pun Menjual ikan tersebut di pasar. Kemudian ia membeli dua buah Fathirah ( Roti isi ), satunya berisikan daging dan lainnya berisikan manisan. Lalu ia memutuskan untuk pergi mendatangi Syaikh tersebut dan memberinya makan darinya. Maka pergilah ia menemui Syaikh dan memberinya sebuah roti.

Berkatalah Syaikh tersebut kepadanya, “ Seandainya kita hanya memberi makan untuk diri kita sendiri, tentu ikan tersebut tidak akan keluar. “

Maksudnya, syaikh melakukan kebaikan untuk mendapatkan kebaikan yang lain. Ia tidak menunggu harga bayaran . Kemudian Syaikh mengembalikan roti tersebut dan berkata kepadanya : “ Ambilah ( dan berikanlah ) untuk diri dan keluargamu!”.

Dijalan menuju rumahnya, Lelaki itu menjumpai seorang Wanita yang sedang menangis karena kelaparan, dan bersamanya adalah anaknya yang masih kecil. Keduanya melihat kepada dua buah roti yang ada pada tangannya.

Lelaki tersebut bertanya kepada dirinya sendiri. “ Wanita ini seperti istri dan putraku yang kesakitan karena menahan lapar, kepada siapakah kuberikan dua buah roti ini ? . “ Demi melihat kedua mata Wanita tersebut, dia tidak kuasa menahan diri saat melihat air mata yang mengalir dari keduanya. Kemudian berkata kepadanya : “ Ambillah dua buah Roti ini !” . Maka bersinarlah wajah Wanita tersebut dan tersenyumlah putranya karena bahagia .

Kembalilah Lelaki tersebut dalam kebingungan, bagaimana dia akan memberi makan istri dan putranya?. Ditengah perjalanannya, dia mendengar seorang yang menyeru : “ Siapakah yang bisa menunjukkanku kepada Abu Nashr as Shayyat ?”. Maka manusiapun menunjukkan kepada Lelaki tersebut dan berkata kepadanya : “ Sesungguhnya ayahandamu telah meminjamkan hartanya kepadaku, sejak dua puluh tahun yang lalu . Kemudian dia mati , sementara aku belum mencari –tahunya . maka ambillah 30 ribu Dirham milik ayahandamu ini Wahai anakku!’”.

Abu Nashr as Shayyad berkata : “ Aku berubah menjadi orang yang paling kaya, Memiliki beberapa rumah dan perniagaan, dan aku bisa bershadaqoh sebagai bentuk syukur kepada Allah Tabaroka wa Ta’ala. Kemudian aku bangga terhadap diriku sendiri karena banyaknya shadaqoh yang aku keluarkan. Maka akupun Bermimpi dalam tidurku bahwa mizan timbangan amal telah ditegakkan.

Lalu menyerulah seorang penyeru : “ Abu Nashr as Shayyad, kemari timbang kebaikan dan keburukanmu. “ Dia berkata : Maka aku letakkan kebaikan dan keburukkanku. Ternyata keburukan-keburukanku lebih berat dari kebaikanku . Maka kukatakan : “ Mana harta yang dulu aku bershadaqoh dengannya ? “ Maka , harta-harta itu diletakkan . Ternyata pada setiap seribu Dirhamnya terdapat nafsu jiwa atau kebanggaan terhadap diri sendiri. Seakan harta –harta tersebut seperti gulungan gulungan kapas yang tidak bernilai sama sekali. Dan keburukanku lebih berat.

Akupun menangis dan berkata : “ Dimana keselamatan?” Lalu aku mendengar seorang penyeru berkata : “ Apakah dia masih Memiliki sesuatu ?” Maka aku mendengar seorang Malaikat berkata : “ Ya, dia masih Memiliki dua buah isi roti .” . Maka diletakkanlah dua buah isi roti tersebut di daun timbangan kebaikan, dan turunlah daun timbangan kebaikan itu hingga sejajar dengan daun timbangan keburukan. Akupun takut .

Kemudian aku mendengar seorang penyeru berkata : “ Apakah dia masih Memiliki sesuatu ?” , aku mendengar seorang Malaikat berkata : “ Ya dia masih Memiliki sesuatu. “ Akupun berkata : “ Apa itu ?” “ Maka dikatakanlah kepadanya : “ Air mata Wanita yang engkau beri dua buah riti isi. “ “ Maka diletekkan air mata tersebut, tiba-tiba tersebut seperti Batu hingga memberatkan daun timbangan kebaikan . Akupun bergembira.

Lalu aku mendengar seorang penyeru berkata : “ Apakah dia masih Memiliki sesuatu ?” . Maka dikatakan “ Ya , senyum anak kecil saat engkau beri dua buah roti isi .” Maka daun timbangan kebaikanpun semakin berat dan semakin beratmengalahkan daun timbangan keburukan. Lalu aku mendengar seorang penyeru berkata : “ Sungguh telah selamat, sungguh telah selamat “ . Akupun terbangun dari Tidur seraya berkata : “ SEANDAINYA KITA HANYA MEMBERI MAKAN DIRI KITA SENDIRI MAKA IKANPUN TIDAK AKAN KELUAR.”

Maka berbuatlah Ikhlas , berbuatlah ikhlas Wahai manusia!*.

Sumber : Majalah Islam Qiblati Edisi 05 Tahun II- Maret 2007M /Shafar 1428H.

Kamis, 14 Oktober 2010

Pelita

oleh Kisah-kisah Inspiratif pada 12 Oktober 2010 jam 5:37
  • Pada suatu malam, seorang buta berpamitan pulang dari rumah sahabatnya. Sang sahabat membekalinya dengan sebuah lentera pelita. Orang buta itu terbahak berkata: "Buat apa saya bawa pelita? Kan sama saja buat saya! Saya bisa pulang kok." Dengan lembut sahabatnya menjawab, "Ini agar orang lain bisa melihat kamu, biar mereka tidak menabrakmu." Akhirnya orang buta itu setuju untuk membawa pelita tersebut. Tak berapa lama, dalam perjalanan, seorang pejalan menabrak si buta. Dalam kagetnya, ia mengomel, "Hei, kamu kan punya mata! Beri jalan buat orang buta dong!" Tanpa berbalas sapa, mereka pun saling berlalu.

    Lebih lanjut, seorang pejalan lainnya menabrak si buta. Kali ini si buta bertambah marah, "Apa kamu buta? Tidak bisa lihat ya? Aku bawa pelita ini supaya kamu bisa lihat!" Pejalan itu menukas, "Kamu yang buta! Apa kamu tidak lihat, pelitamu sudah padam!" Si buta tertegun.... Menyadari situasi itu, penabraknya meminta maaf, "Oh, maaf, sayalah yang 'buta', saya tidak melihat bahwa Anda adalah orang buta."

    Si buta tersipu menjawab, "Tidak apa-apa, maafkan saya juga atas kata-kata kasar saya." Dengan tulus, si penabrak membantu menyalakan kembali pelita yang dibawa si buta. Mereka pun melanjutkan perjalanan masing-masing.

    Dalam perjalanan selanjutnya, ada lagi pejalan yang menabrak orang buta kita. Kali ini, si buta lebih berhati-hati, dia bertanya dengan santun, "Maaf, apakah pelita saya padam?" Penabraknya menjawab, "Lho, saya justru mau menanyakan hal yang sama." Senyap sejenak... secara berbarengan mereka bertanya, "Apakah Anda orang buta?" Secara serempak pun mereka menjawab, "Iya...," sembari meledak dalam tawa. Mereka pun berupaya saling membantu menemukan kembali pelita mereka yang berjatuhan sehabis bertabrakan.

    Pada waktu itu juga, seseorang lewat. Dalam keremangan malam, nyaris saja ia menubruk kedua orang yang sedang mencari-cari pelita tersebut. Ia pun berlalu, tanpa mengetahui bahwa mereka adalah orang buta. Timbul pikiran dalam benak orang ini, "Rasanya saya perlu membawa pelita juga, jadi saya bisa melihat jalan dengan lebih baik, orang lain juga bisa ikut melihat jalan mereka."

  • Pelita melambangkan terang kebijaksanaan. Membawa pelita berarti menjalankan kebijaksanaan dalam hidup. Pelita, sama halnya dengan kebijaksanaan, melindungi kita dan pihak lain dari berbagai aral rintangan (tabrakan!).

    Si buta pertama mewakili mereka yang terselubungi kegelapan batin, keangkuhan, kebebalan, ego, dan kemarahan. Selalu menunjuk ke arah orang lain, tidak sadar bahwa lebih banyak jarinya yang menunjuk ke arah dirinya sendiri. Dalam perjalanan "pulang", ia belajar menjadi bijak melalui peristiwa demi peristiwa yang dialaminya. Ia menjadi lebih rendah hati karena menyadari kebutaannya dan dengan adanya belas kasih dari pihak lain. Ia juga belajar menjadi pemaaf.

    Penabrak pertama mewakili orang-orang pada umumnya, yang kurang kesadaran, yang kurang peduli. Kadang, mereka memilih untuk "membuta" walaupun mereka bisa melihat.

    Penabrak kedua mewakili mereka yang seolah bertentangan dengan kita, yang sebetulnya menunjukkan kekeliruan kita, sengaja atau tidak sengaja. Mereka bisa menjadi guru-guru terbaik kita. Tak seorang pun yang mau jadi buta, sudah selayaknya kita saling memaklumi dan saling membantu.

    Orang buta kedua mewakili mereka yang sama-sama gelap batin dengan kita. Betapa sulitnya menyalakan pelita kalau kita bahkan tidak bisa melihat pelitanya. Orang buta sulit menuntun orang buta lainnya. Itulah pentingnya untuk terus belajar agar kita menjadi makin melek, semakin bijaksana.

    Orang terakhir yang lewat mewakili mereka yang cukup sadar akan pentingnya memiliki pelita kebijaksanaan.

    Sudahkah kita sulut pelita dalam diri kita masing-masing? Jika sudah, apakah nyalanya masih terang, atau bahkan nyaris padam? JADILAH PELITA, bagi diri kita sendiri dan sekitar kita.

    Sebuah pepatah berusia 25 abad mengatakan: Sejuta pelita dapat dinyalakan dari sebuah pelita, dan nyala pelita pertama tidak akan meredup. Pelita kebijaksanaan pun, tak kan pernah habis terbagi.