Tampilkan postingan dengan label AQIDAH. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label AQIDAH. Tampilkan semua postingan

Selasa, 26 Oktober 2010

Nama Bulan dalam Kalender Hijriyah

“Mereka bertanya kepada engkau tentang hilal. Katakanlah hilal itu adalah tanda-tanda waktu bagi manusia dan (tanda pelaksanaan) haji” (Al-Baqarah : 189)

Segala puji bagi Alloh yang hanya kepadaNya kita brtasbih, dan hanya kepadaNya pula kita memohon ampun dan berlindung dari segala dosa, kesalahan, dan dari jeleknya amal-amal kita. Sungguh barangsiapa yang Alloh beri petunjuk maka tak ada yang dapat menyesatkannya. Dan barangsiapa yang Alloh biarkan tersesat, maka siapa lagi yang dapat memberinya petunjuk

Telah diilmui oleh sebahagian kaum muslimin bahwasanya Almuharrom adalah bulan termulia setelah Ramadhon. Ia adalah Syahrulloh, Bulan yang dinisbatkan Rasululloh sebagai bulan Alloh. Penisbatan ini tentu mengandung makna yang besar sehingga sepatutnyalah kita menggali lebih dalam fadhilah yang ada didalamnya. Satu fadhilah yang disunnahkan Rasululloh dan telah diketahui umumnya muslimin adalah shaum pada hari tasu’a dan asyura (hari ke-9 dan ke-10) dimana keutamaannya adalah penghapusan dosa setahun yang lalu, dan meski kaum yahudi pun berpuasa asyura sebagai syukur mereka sebab dihari itu Nabi Musa dan bani israil diselamatkan Alloh dan fir’aun beserta kaumnya ditenggelamkan, tapi sesungguhnya kita kaum muslimin yang lebih berhak untuk berpuasa atas itu. Maka berpuasalah dan selisihi mereka dengan berpuasa pula pada tanggal 9 nya.

sesungguhnya bulan disisi Alloh itu adalah 12 bulan sejak Langit dan Bumi diciptakan sebagaimana firmanNya :

Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Alloh adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Alloh di waktu Dia menciptakan langit dan bumi (At-Taubah : 36)

Dan 12 bulan tersebut adalah bulan yang sesuai dengan kalender Hijriyah. Inilah penanggalan yang sesuai dengan syariat dan sesuai dengan fitrah zamaan karena menilik pada hilal/bulan sabit. Penanggalan ini menjadi resmi sebagai kalender Islam sejak di putuskan Umar Ibn Khattab dalam syuro bersama para sahabat pada tahun keempat masa kekhalifahanya. Tapi sangat disayangkan, sedikit sekali dari generasi Islam zaman ini yang menghapal penanggalan tersebut, sebaliknya mereka begitu hapal dengan kalender masehi yang notabene penanggalan As-Syams (matahari) dan bukan dari Islam (nama2 bulan masehi tak pernah disebutkan baik dlm AlQuran, Sunnah, Maupun Ijma, termasuk juga penetapan bulan secara AsSyams versi kabisat tidak dikenal dlm Islam). adapun penanda waktu berdasar matahari memang ada disebutkan dalam AlQuran dan tetap dipakai dalam Islam, tapi berlaku sebagai penanda harian seperti waktu sahur berbuka dan sholat.

Bila dinamakan dan disusun menurut dalil yang sohih maka ke12 bulan tersebut adalah sebagai berikut :

___________________________________________________________________________

1. Almuharrom

(bulan pertama dalam kalender hijriyah. Sebagian muslimin menyebutnya Muharram. Padahal sebutan yang paling tepat sebagaimana Rasululloh menyebutnya adalah Almuharrom. Yakni ada kata “Al” didepannya dan ini telah dibahas ulama. Nama ini secara lughot/bahasa bermakna “yang diharamkan”. Dan secara istilah maksudnya “diharamkannya menumpahkan darah dan berperang”. Pengharaman perang ini sendiri dihapuskan karena berlaku dahulu di awal perjuangan Islam. Lihat Al-Baqarah : 194)

___________________________________________________________________________

2. Shafar

(bulan kedua dalam Hijriyah. Secara lughot artinya “kuning atau kosong”. Secara istilah adalah bulan dimana para lelaki arab pergi merantau dan sibuk dengan aktivitas perniagaan dan perang)

___________________________________________________________________________

3. Rabi’ul Awwal

(berasal dari kata Rabi’ secara lughot artinya “menetap”. Secara istilah disebut Rabi’ karena urf orang arab adalah mereka kembali dari perantauan pada bulan ini. Dibulan ini pula sebenarnya Rasululloh melakukan hijrah dan bukan di bulan Almuharrom. Lalu mengapa penanggalan dimulai di bulan Almuharrom? Jawabnya; karena para sahabat mngetahui bahwa niat Rasululloh untuk hijrah telah ada sejak Almuharrom dan urusan umat Islam terkait manasik haji selesai di Almuharrom maka Almuharrom dianggap bulan permulaan dalam banyak perkara)

___________________________________________________________________________

4. Rabi’ul Akhir

(disebut juga Rabi’ul At-Tsaaniyah. Secara urf dibulan ini para lelaki arab menetap untuk terakhir kalinya untuk kemudian melakukan perantauan kembali)

___________________________________________________________________________

5. Jumaadal Ulaa

(berasal dari kata “jumaad” yang artinya “kering” dan Ulaa artinya pertama. Dinamakan demikian karena di bulan ini biasanya awal musim kemarau)

___________________________________________________________________________

6. Jumaadal At-Tsaaniyah

(dinamakan demikian karena biasanya penghabisan musim kemarau)

___________________________________________________________________________

7. Rojab

(berarti “mulia”. Orang arab menamakan demikian karena pada masa jahiliyah dulu dibulan ini dilakukan adat-adat pemuliaan seperti qurban, far’a, dan atirah. Lalu Islam datang dan menghapusnya maka dibulan ini biasanya dilakukan ziarah ke baitul haram dalam keadaan aman. nama lain bulan ini adalah Syahru Mudhor)

___________________________________________________________________________

8. Sya’ban

(artinya “berkelompok-kelompok” yakni dibulan ini para lelaki terserak-serak dengan bermacam-macam urusan. ada yang mencari air, ada yang berniaga, ada yang pergi kelembah-lembah, dsb)

___________________________________________________________________________

9. Ramadhon

(artinya “terbakar”. Dinamakan demikian karena matahari dibulan ini begitu terik. Ramadhon adalah satu-satunya bulan yang disebut secara tersurat dalam Al-Quran. Sebutan lain yang rajih adalah Syahrus Shiyaam dan Syahrul Quraan)

___________________________________________________________________________

10. Syawal

( artinya “meningkat” atau “keatas”. Dinamakan demikian karena orang arab umumnya meningkat girohnya dibulan ini setelah bulan sebelumnya diuji dengan hari-hari yang terik. Mereka menampakkan kegembiraan dan semangat hidup yang berapi-api dan saling berlomba-lomba dibulan ini)

___________________________________________________________________________

11. Dzulqa’dah

(berasal dari dua kata yakni “dzul = pemilik” dan “qa’dah = tempat duduk”. Dinamakan demikian karena pada hari-hari dibulan ini kebanyakan orang-orang arab beristirahat dari aktivitas yang melelahkan dibulan lalu)

___________________________________________________________________________

12. Dzulhijjah

(artinya pemilik haji. Dinamakan demikian karena manusia meyakini bahwa umat para Nabi sejak Nabi Adam melaksanakan ibadah haji pada bulan ini.)

___________________________________________________________________________

Diantara 12 bulan tersebut telah ditetapkan 4 bulan sebagai bulan kehormatan dan pengharaman untuk membuat kekacauan/perang/menumpahkan darah dan kezaliman yang kejelekannya amat berat dibanding jika dilakukan di bulan lainnya. 4 bulan tersebut yakni : Almuharrom , Rojab , Dzulqa’dah, Dzulhijjah

Demikian, dan sebagai penutup mari renungkan kembali Firman Alloh (At-Taubah : 36)

Sesungguhnya bilangan BULAN pada sisi Allah adalah DUA BELAS BULAN, dalam ketetapan Alloh di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya EMPAT BULAN HARAM. Itulah AGAMA YANG LURUS, maka janganlah kamu menganiaya diri kamu dalam bulan yang empat itu.

sumber: memen.wordpress.com

ETIKA MAKAN DAN MINUM DALAM ISLAM

Rasulullah saw. bersabda, “Kami adalah kaum yang tidak makan kecuali kami lapar, dan jika kami makan maka kami tidak sampai kekenyangan.”

Etika Sebelum Makan

Etika sebelum makan adalah sebagai berikut :

1. Makanan dan minumannya halal, bersih dari kotoran-kotoran haram, dan syubhat, karena Allah Ta’ala berfirman,

“Hai orang-orang yang beriman, makanlah di antara rezki yang baik-baik yang Kami berikan kepada kalian.” (Al-Baqarah:172).

Yang dimaksud rizki yang baik ialah halal yang tidak ada kotoran di dalamnya.

2. Ia meniatkan makanan dan minumannya untuk menguatkan ibadahnya kepada Allah Ta‘ala, agar ia diberi pahala karena apa yang ia makan, dan ia minum. Sesuatu yang mubah jika diniatkan dengan baik, maka berubah statusnya menjadi ketaatan dan seorang Muslim diberi pahala karenanya.

3. Ia mencuci kedua tangannya sebelum makan jika keduanya kotor, atau ia tidak dapat memastikan kebersihan keduanya.

4. Ia meletakkan makanannya menyatu di atas tanah, dan tidak di atas meja makan, karena cara tersebut lebih dekat kepada sikap tawadlu’, dan karena ucapan Anas bin Malik ra, “Rasulullah saw. pernah makan di atas meja makan atau di piring.” (Diriwayatkan Al-Bukhari).

5. Ia duduk dengan tawadlu dengan duduk berlutut, atau duduk di atas kedua tumitnya, atau menegakkan kaki kanannya dan ia duduk di atas kaki kirinya, seperti duduknya Rasulullah saw., karena Rasulullah saw. bersabda,

“Aku tidak makan dalam keadaan bersandar, karena aku seorang budak yang makan seperti makannya budak, dan aku duduk seperti duduknya budak.” (Diriwayatkan Al-Bukhari).

6. Menerima makanan yang ada, dan tidak mencacatnya, jika ia tertarik kepadanya maka ia memakannya, dan jika ia tidak tertarik kepadanya maka ia tidak memakannya, karena Abu Hurairah ra berkata, “Rasulullah saw. tidak pernah sekali pun mencacat makanan, jika beliau tertarik kepadanya maka beliau memakannya, dan jika beliau tidak tertarik kepadanya maka beliau meninggalkannya.” (Diriwayatkan Abu Daud).

7. Ia makan bersama orang lain, misalnya dengan tamu, atau istri, atau anak, atau pembantu, karena Rasulullah saw. bersabda,

“Berkumpullah kalian di makanan kalian niscaya kalian diberi keberkahan di dalamnya.” (Diriwayatkan Abu Daud dan At-Tirmidzi yang men-shahih-kannya).

Etika ketika sedang Makan

Di antara etika sedang makan ialah sebagai berikut:

1. Memulai makan dengan mengucapkan basmalah, karena Rasulullah saw. bersabda,

“Jika salah seorang dari kalian makan, maka sebutlah nama Allah Ta’ala. Jika ia lupa tidak menyebut nama Allah, maka hendaklah ia menyebut nama Allah Ta‘ala pada awalnya dan hendaklah ia berkata, Dengan nama Allah, sejak awal hingga akhir.” (Diriwayatkan Abu Daud dan At-Tirmidzi yang men-shahih-kannya).

2. Mengakhiri makan dengan memuji Allah Ta‘ala, karena Rasulullah saw. bersabda,

“Barangsiapa makan makanan, dan berkata, ‘Segala puji bagi Allah yang memberi makanan ini kepadaku, dan memberikannya kepadaku tanpa ada daya dan upaya dariku’, maka dosa-dosa masa lalunya diampuni.” (Muttafaq Alaih).

3. Ia makan dengan tiga jari tangan kanannya, mengecilkan suapan, mengunyah makanan dengan baik, makan dari makanan yang dekat dengannya (pinggir) dan tidak makan dari tengah piring, karena dalil-dalil berikut

Rasulullah saw. bersabda kepada Umar bin Salamah,

“Hai anak muda, sebutlah nama Allah, makanlah dengan tangan kananmu, dan makanlah dari makanan yang dekat denganmu (pinggir).” (Muttafaq Alaih).

“Keberkahan itu turun di tengah makanan. Maka oleh karena itu, makanlah dari pinggir-pinggirnya, dan janqan makan dari tengahnya.” (Muttafaq Alaih).

4. Mengunyah makanan dengan baik, menjilat piring makanannya sebelum mengelapnya dengan kain, atau mencucinya dengan air, karena dalil-dalil berikut:

Rasulullah saw. bersabda,

“Jika salah seorang dari kalian makan makanan, maka ia jangan membersihkan jari-jarinya sebelum ia menjilatnya.” (Diriwayatkan Abu Daud dan At-Tirmidzi yang men-shahih-kannya).

Ucapan Jabir bin Abdullah ra bahwa Rasulullah saw. memerintahkan menjilat jari-jari dan piring. Beliau bersabda,

“Sesungguhnya kalian tidak mengetahui di makanan kalian yang mana keberkahan itu berada.” (Diriwayatkan Muslim).

5. Jika ada makanannya yang jatuh, ia mengambil dan memakannya, karena Rasulullah saw. bersabda,

“Jika sesuap makanan kalian jatuh, hendaklah ia mengambilnya, membuang kotoran daripadanya, kemudian memakan sesuap makanan tersebut, serta tidak membiarkannya dimakan syetan.” (Diriwayatkan Muslim).

6. Tidak meniup makanan yang masih panas, memakannya ketika telah dingin, tidak bernafas di air ketika minum, dan bernafas di luar air hingga tiga kali, karena dalil-dalil berikut:

Hadits Anas bin Malik ra berkata, “Rasulullah saw. bernafas di luar tempat minum hingga tiga kali.” (Muttafaq Alaih).

Hadits Abu Said Al-Khudri ra, bahwa Rasulullah saw. melarang bernafas di minuman. (Diriwayatkan At-Tirmidzi yang men-shahih-kannya).

Hadits lbnu Abbas ra bahwa Rasulullah saw. melarang bernafas di dalam minuman, atau meniup di dalamnya. (Diriwayatkan At-Tirmidzi yang men-shahih-kannya).

7. Menghindari kenyang yang berlebih-lebihan, karena Rasulullah saw., bersabda,

“Anak Adam tidak mengisi tempat yang lebih buruk daripada perutnya. Anak Adam itu sudah cukup dengan beberapa suap yang menguatkan tulang punggungnya. Jika ia tidak mau (tidak cukup), maka dengan seperti makanan, dan dengan seperti minuman, dan sepertiga yang lain untuk dirinya.” (Diriwayatkan Ahmad, Ibnu Majah, dan Al-Hakim. Hadits ini hasan).

8. Memberikan makanan atau minuman kepada orang yang paling tua, kemudian memutarnya kepada orang-orang yang berada di sebelah kanannya dan seterusnya, dan ia menjadi orang yang terakhir kali mendapatkan jatah minuman, karena dalil-dalil berikut:

Sabda Rasulullah saw.,

“Mulai dengan orang tua. Mulailah dengan orang tua.”

Maksudnya, mulailah dengan orang-orang tua.

Rasulullah saw. meminta izin kepada Ibnu Abbas untuk memberi makanan kepada orang-orang tua di sebelah kiri beliau, sebab Ibnu Abbas berada di sebelah kanan beliau, sedang orang-orang tua berada di sebelah kiri beliau. Permintaan izin Rasulullah saw. kepada Ibnu Abbas untuk memberikan makanan kepada orang-orang tua di sebelah kiri beliau itu menunjukkan bahwa orang yang paling berhak terhadap minuman ialah orang yang duduk di sebelah kanan.

Sabda Rasulullah saw.,

“Sebelah kanan, kemudian sebelah kanan.” (Muttafaq Alaib).

“Pemberi minuman ialah orang yang paling akhir meminum.”

9. Ia tidak memulai makan, atau minum, sedang di ruang pertemuannya terdapat orang yang lebih berhak memulainya, karena usia atau karena kelebihan kedudukannya, karena hal tersebut melanggar etika, dan menyebabkan pelakunya dicap rakus. Salah seorang penyair berkata,

Jika tangan-tangan dijulurkan kepada perbekalan,

Maka aku tidak buru-buru mendahului mereka,

sebab orang yang paling rakus ialah

orang yang paling buru-buru terhadap makanan.

10. Tidak memaksa teman atau tamunya dengan berkata kepadanya, ‘silakan makan’, namun ia harus makan dengan etis (santun) sesuai dengan kebutuhannya tanpa merasa malu-malu, atau memaksa diri malu-malu, sebab hal tersebut menyusahkan teman atau tamunya, dan termasuk riya’, padahal riya’ itu diharamkan.

11. Ramah terhadap temannya ketika makan bersama dengan tidak makan lebih banyak dari porsi temannya, apalagi jika makanan tidak banyak, karena makan banyak dalam kondisi seperti itu termasuk memakan hak (jatah) orang lain.

12. Tidak melihat teman-temannya ketika sedang makan, dan tidak melirik mereka, karena itu bisa membuat malu kepadanya. Ia harus menahan pandangannya terhadap wanita yang makan di sekitarnya, dan tidak mencuri-curi pandangan terhadap mereka, karena hal tersebut menyakiti mereka membuat mereka marah dan ia pun mendapat dosa karena perbuatannya tersebut.

13. Tidak mengerjakan perbuatan-perbuatan yang dipandang tidak sopan oleh masyarakat setempat. Misalnya, ia tidak boleh mengibaskan tangannya di piring, tidak mendekatkan kepalanya ke piring ketika makan agar tidak ada sesuatu yang jatuh dari kepalanya ke piringnya, ketika mengambil roti dengan giginya ia tidak boleh mencelupkan sisanya di dalam piring, dan tidak boleh berkata jorok, sebab hal ini mengganggu salah satu temannya, dan mengganggu seorang Muslim itu haram hukumnya.

14. Jika ia makan bersama orang-orang miskin, ia harus mendahulukan orang miskin tersebut. Jika ia makan bersama saudara-saudaranya, ia tidak ada salahnya bercanda dengan mereka dalam batas-batas yang diperbolehkan. Jika ia makan bersama orang yang berkedudukan, maka ia harus santun, dan hormat terhadap mereka.

Etika Setelah Makan

Di antara etika setelah makan ialah sebagai berikut:

1. Ia berhenti makan sebelum kenyang, karena meniru Rasulullah saw. agar ia tidak jatuh dalam kebinasaan, dan kegemukan yang menghilangkan kecerdasannya.

2. Ia menjilat tangannya, kemudian mengelapnya, atau mencucinya. Namun mencucinya lebih baik.

3. Ia mengambil makanan yang jatuh ketika ia makan, karena ada anjuran terhadap hal tersebut, dan karena itu adalah bagian dari syukur atas nikmat.

4. Membersihkan sisa-sisa makanan di gigi-giginya, dan berkumur untuk membersihkan mulutnya, karena dengan mulutnya itulah ia berdzikir kepada Allah Ta‘ala, berbicara dengan saudara-saudaranya, dan karena kebersihan mulut itu memperpanjang kesehatan gigi.

5. Memuji Allah Ta‘ala setelab ia makan, dan minum. Ketika ia minum susu, ia berkata, “Ya Allah, berkahilah apa yang Engkau berikan kepada kami, dan tambahilah rizki-Mu (kepada kami)”. Jika berbuka puasa di tempat orang, ia berkata, “Orang-orang yang mengerjakan puasa berbuka puasa di tempat kalian, orang-orang yang baik memakan makanan kalian, dan semoga para malaikat mendoakan kalian.

sumber: www.alislamu.com

Selasa, 19 Oktober 2010

ADAKAH BIDADARA DI SURGA NANTI.....?

Posted October 14, 2010 by abdullah in Aqidah Islam, Mutiara Nasehat, Tarbiyah Islam
Assalaamu''alaikum,
Saya ada persoalan. Kalau lelaki yang berimana bila di syurga kelak di akan ditemani bidadari. Bagaimana dengan wanita? Adakah bidadari untuk mereka atau bagaimana?
jawaban
Assalamu ''alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Surga adalah tempat segala kenikmatan tanpa batas. Segala jenis kenikmatan yang belum pernah dikenal, dilihat dan didengar oleh manusia ada di surga. Bahkan kenikmatan yang belum pernah terbersit di benak kita pun tersedia.
Di surga nanti tidak ada aturan dan larangan. Jadi tidak ada hukum halal haram, semua halal dan semua boleh. Siapa pun boleh melakukan apa saja semaunya dan sekaligus berhak mendapatkan kenikmatan apa dalam bentuk apa saja.
Dan karena surga itu bukan hanya milik laki-laki tapi juga buat para wanita, maka para wanita pun pasti akan mendapatkan kenikmatan yang tidak kalah dari yang didapat oleh para laki-laki.
Kalau pun kita umumnya hanya mengenal istilah bidadari (huru ''ien), sebenarnya yang tersedia bukan hanya itu. Pasangan untuk para wanita di surga pun juga pasti ada. Dan penyebutan pasangan buat para wanita di dalam Al-Quran pun disebutkan secara eksplisit, meski bukan dengan menggunakan istilah bidadara(?).
Al-Quran menyebutkan dengan istilah pasangan saja (azwaj), sebagaimana yang tertera di ayat-ayat berikut ini:
Dan sampaikanlah berita gembira kepada mereka yang beriman dan berbuat baik, bahwa bagi mereka disediakan surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya. Setiap mereka diberi rezki buah-buahan dalam surga-surga itu, mereka mengatakan, "Inilah yang pernah diberikan kepada kami dahulu." Mereka diberi buah-buahan yang serupa dan untuk mereka di dalamnya ada pasangan-pasangan yang suci dan mereka kekal di dalamnya. (QS Al-Baqarah: 25)
Katakanlah, "Inginkah aku kabarkan kepadamu apa yang lebih baik dari yang demikian itu?" Untuk orang-orang yang bertakwa, pada sisi Tuhan mereka ada surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; mereka kekal di dalamnya. Dan pasangan-pasangan yang disucikan serta keridhaan Allah. Dan Allah Maha Melihat akan hamba-hamba-Nya. (QS Ali Imran: 13)
Dan orang-orang yang beriman dan mengerjakan amalan-amalan yang shaleh, kelak akan Kami masukkan mereka ke dalam surga yang di dalamnya mengalir sungai-sungai; kekal mereka di dalamnya; mereka di dalamnya mempunyai pasangan-pasangan yang suci, dan Kami masukkan mereka ke tempat yang teduh lagi nyaman. (QS An-Nisa'': 57)
Mereka dan pasangan-pasangan mereka berada dalam tempat yang teduh, bertelekan di atas dipan-dipan. (QS Yaasiin: 56)
Penyebutan kata ''pasangan'' di ayat-ayat di atas berbeda dengan penyebutan kata ''hurun ''ien'' di dalam ayat-ayat lainnya. Sebab kata ''hurun ien'' memang lebih identik dengan tipologi seorang wanita. Tetapi menggunaan kata pasangan, lebih bebas. Bisa termasuk wanita tapi bisa juga laki-laki.
Wallahu a''lam bishshawab, wassalamu ''alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Ahmad Sarwat, Lc

AMALAN & KELEBIHAN BULAN SYAABAN

Posted July 16, 2010 by سابرينا Rina
Sabda Nabi s.a.w. : 'Apabila masuk bulan Syaaban, baikkanlah niatmu padanya, kerana kelebihan Syaaban atas segala bulan seperti kelebihanku atas kamu.'

Barangsiapa berpuasa sehari pada bulan Syaaban, diharamkan Allah tubuhnya dari api neraka. Dia akan menjadi taulan Nabi Allah Yusuf di dalam syurga.Diberi pahala oleh Allah seperti pahala Nabi Allah Ayub dan Nabi Daud.

Jika dia sempurnakan puasanya sebulan bulan Syaaban, dimudahkan Allah atasnya Sakrotulmaut dan ditolakkan (terlepas) daripadanya kegelapan di dalam kubur, dilepaskan daripada huru-hara Munkar dan Nakir, ditutup Allah keaibannya di hari qiamat, dan diwajibkan syurga baginya.

Barangsiapa berpuasa pada awal hari khamis pada bulan Syaaban dan akhir khamis daripada Syaaban, dimasukkan dia ke dalam syurga. Berkata Siti Aisyah r.a. :- Bulan yang lebih dikasihi oleh Rasulullah S.A.W. ialah bulan Syaaban.'

Sabda Nabi S.A.W. :- 'Syaaban adalah bulanku, dan Ramadhan adalah bulan umatku. Syaaban ialah mengkifaratkan dosa dan Ramadhan ialah menyucikan dosa (jasmani rohani).'

Sabda Nabi S.A.W. :- 'Bahawa puasa Syaaban kerana membesarkan Ramadhan, siapa berpuasa tiga hari daripada bulan Syaaban, kemudian dia bersolawat atasku beberapa kali sebelum berbuka
puasa, maka diampunkan oleh Allah dosanya yang telah lalu,diberkatkan rezkinya baginya. Bahawa Allah membukakan pada bulan itu tiga ratus pintu rahmat.'

Sabda Nabi S.A.W :- 'Dinamakan Syaaban kerana padanya terdapat kebajikan yang amat banyak, dan puasa yang lebih afdhal sesudah Ramadhan ialah puasa bulan Syaaban.'

Sabda Nabi S.A.W :- 'Bahawa kelebihan Rejab atas bulan-bulan yang lainnya seperti kelebihan Quran atas segala kalam. Kelebihan Syaaban atas bulan-bulan yang lainnya seperti kelebihanku atas segala Anbia'.

Kelebihan
Ramadhan atas bulan- bulan yang lain seperti kelebihan Allah atas sekelian makhlukNya.'
Bulan Syaaban - keagungan malamnya dengan Nisfu Syaaban seperti keagungan Rejab dengan malam Isra' Mikrajnya, dan keagungan Ramadhan dengan Lailatul Qadarnya. Maka pada malam Nisfu Syaaban telah datang Jibril kepada Rasulullah S.A.W. lalu katanya :- Angkat kepalamu ke langit, itulah malam yang dibukakan Allah padanya tiga ratus rahmat dan diampunkan Allah sekelian orang yang tiada syirik denganNya sesuatu, kecuali tukang nujum, kekal dalam zina, kekal minum arak dan derhaka terhadap ibubapa.'

Sabda Nabi S.A.W. :- 'Allah menilik kepada hambaNya pada malam Nisfu Syaaban maka diampunkan dosa segala makhlukNya melainkan orang syirik dan orang yang tiada bertutur dengan
saudaranya.

sabdanya lagi :- 'Apabila pada malam Nisfu Syaaban maka berjagalah kamu pada malamnya
bersembahyang, beribadat, dan puasa kamu pada siangnya. Allah berfirman, Adakah orang yang meminta ampun maka aku ampunkannya, adakah orang yang ditimpa bala Aku afiatkannya. Adakah orang yang meminta rezki maka Aku rezkikannya, demikianlah pertanyaan lainnya
sehingga keluar fajar subuh. Tersebut dalam kitab Al-Barokah, bahawa jin, burung, binatang-binatang buas,ikan di laut berpuasa mereka pada hari Nisfu Syaaban.

Tersebut di dalam kitab Iqna', bahawa Jibril bersungguh-sungguh pada malam Nisfu Syaaban menunaikan segala hajat. Maka datanglah Jibril kepada Rasulullah S.A.W. kali keduanya, katanya :- 'Ya Muhammad, gembirakanlah kamu bahawa Allah telah mengampunkan segala umatmu orang yang tiada mensyirikkanNya sesuatu, angkatkan kepalamu, lalu Rasulullah mengangkatkan kepalanya, tiba-tiba terbuka segala pintu syurga.'

Kata Syeikh Abdul Qadir Al-Kilani di dalam Ghaniah :- 'Bahawa malam Nisfu Syaaban adalah hariraya malaikat, begitu juga pada malam Lailatul Qadar mereka tidak tidur, dipenuhi dengan amal dan ibadat sepanjang-panjang malamnya. Dan bagi anak-anak Adam berhari raya padanya pada siang hari dengan berpuasa dan ibadat, kerana mereka tidur pada malamnya.

Allah tidak akan mengampunkan dosa pada malam Nisfu Syaaban kepada enam orang :-
- Orang yang kekal minum arak.
- Orang yang derhaka dua ibubapanya.
- Orang yang kekal dalam zina.
- Orang yang banyak berkelahi.
- Orang yang melakukan perjualannya dengan sumpah yang dusta.
- Orang yang memperlagakan orang supaya berkelahi.

Sesiapa sembahyang pada malam Nisfu Syaaban daripada umat Muhammad S.A.W. terlebih afdal daripada ibadatnya 400 tahun. Demikian Allah memberitahu kepada Nabi Isa lalu Nabi Isa pun
berdoa kepada Tuhan, 'Mudah-mudahan aku daripada umat Muhammad S.A.W.'

AMALAN PADA MALAM NISFU SYAABAN

Apabila telah selesai solat maghrib kata Imam Syahrurazi, Sohiba (Awariful Maarif) hendaklah dibaca "Yasin" dengan diniatkan mohon panjangkan umurnya dalam mentaati Allah, kemudian dibacakan doanya. Kemudian dibacakan pula Yasin dengan diniatkan diluaskan Allah rezkinya yang halal dan diberkatinya, kemudian lalu dibacakan doanya. Kemudian dibacakan pula Yasin serta diniatkan minta dimatikan dalam iman, kemudian dibacakan doanya.

Pada malam Nisfu Syaaban sangat baik dibanyakkan beristighfar dan taubat dari segala dosa-dosa besar dan kecil, dan meminta diampunkan Allah dosa-dosa ibubapa kita dan keluarga kita.
- Amat baik sekali dibacakan penghulu Istighfar.
- Mohon keampunan dua ibubapa. (seberapa banyak yang boleh)
- Mohon keampunan dan taubat diri. (70/100 kali pagi petang)
- Membaca al-Quran.
- Membaca Tasbih. (seratus kali)
- Membaca Solawat atas Nabi. (10 atau 100 kali pagi dan petang)
- Membaca Zikrullah. (seratus kali selepas solat subuh dan selepas solat asar).
- Solat-solat sunat : Sunat Mutlaq, Sunat Isyraq, Sunat Dhuha,
- Sunat mengiringi Fardhu, Sunat Awwabin, Sunat Tahajjud, Sunat Tasbih, Sunat Witir dan Sunat Hajat. (Solat Sunat Hajat ditengah malam sebaik- baiknya memohon hajat sesuatu). Hendaklah kita sentiasa menyegerakan amal taat, dan jangan sekali- kali menangguhkannya ke masa yang lain, kerana dalam menangguh- nangguh amal taat itu mengandungi bahaya.

Sabda Rasulullah S.A.W. :- "Rebutlah peluang lima sebelum lima : Masa muda sebelum tiba masa tua. Masa sihat sebelum tiba masa sakit. Masa lapang sebelum tiba masa sibuk. Masa kaya sebelum tiba masa papa dan Masa hidup sebelum tiba mati."

Sabdanya lagi :- "Segerakanlah mengerjakan amal-amal soleh sebelum kamu sibuk, dan adakanlah perhubungan di antara kamu dengan Tuhan kamu dengan memperbanyakkan zikir (ingatan) kepadaNya."

Akhirnya beramallah menurut keimanan masing-masing. Kalau tidak dapat semua janganlah ditinggalkan semua. Lebihan atau sisa umur kita yang masih tinggal sedikit lagi, hampir sampai ke hujungnya. Rebutlah amal sebanyak-banyak yang boleh, bertaubatlah kepada Allah dosa-dosa yang
banyak, dengan segala kesungguhan untuk bekal kita di akhirat, yang akan pergi tidak akan pulang-pulang lagi. Semoga dalam keredhaan Allah S.W.T. InsyaAllah.

Senin, 18 Oktober 2010

BENARKAH SABAR ADA BATASNYA?????

Posted October 8, 2010 by abdullah in Aqidah Islam, Akhlak Islam
37456_1336525699651_1426367428_30776599_4966771_n.jpg

Ada sebuah Cerita.

Ketika itu, Ibu-Ibu PKK sedang menghadiri arisan rutin.

Tiap-tiap ibu rumah tangga dari penjuru arah berdatangan untuk menghadiri acara tersebut, karena acara itu adalah hobi yang di nanti-nanti.

Sesi wajib pun dimulai. Ngrumpi ala ibu-ibu PKK. Salah seorang ibu membuka dengan satu cerita kepada ibu yang lain.

Ibu Fulanah 1 : “Jeng, Ibu Fulanah 3 itu le jeng. Kok sirik ya sama saya. Suami saya beli mobil baru, eh ada aja yang diomongin.

Uang hasil korupsi lah, melihara tuyul lah. Mulutnya ituloh, minta di sobek kali ya jeng. Kurang apa coba, minjem uang ya tak pinjemin. Ada sedikit rejeki ya saya kasih. Kok ada ya orang kayak gitu. . .!?”

Ibu Fulanah 2 : “Sabar Toh Jeng, Kadang-kadang ada juga orang yang kayak gitu. Biar Allah nanti yang membalas. Allah Maha tau serahin aja sama Dia.”

Ibu Fulanah 1 : “Iya seh, tapi kesabaran kan ada batasnya Jeng . . . .”

OK, mari kita tinggalkan percakapan diatas. Ada satu kalimat menarik yang bisa kita ambil dari percakapan di atas. “Tapi kesabaran kan ada batasnya . . .”

Fenomena yang tak asing lagi bagi kehidupan manusia, bahwa kesabaran ada batasnya. Benarkah kesabaran ada batasnya !? Kalo iya, seberapa jauh batas kesabaran seseorang !? atau klo bisa ngukur, seberapa jauh sih kesabaran kita !?

Terkadang untuk memacu semangat, kita sering menganggap diri kita tak terbatas. Kita sering mengambil jargon2 keren seperti “Unlimited bla bla” atau “surpase ur limit bla bla”. Tapi kenapa ketika bertemu sesuatu yang memaksa kita berurusan dengan sabar kita selalu berkata “sabar kan ada batasnya . . .”. Tak ada satu semengat sedikitpun untuk berusaha menganggap bahwa diri kita tak terbatas. “Mana semangatnya ???”.

Lalu, siapa yah yang mengeluarkan pernyataan klo sabar itu ada batasnya ?? atau adakah pakar Psikologi yang berpendapat bahwa sabar itu ada batasnya. Klo ada, kasih tau yah, yah, yah !!!!! beserta alasannya. Happy . Nah, sekarang mari kita kembali kepada apa yang diwahyukan oleh Allah SWT tentang sabar di dalam Qur’an. Kita akan cari, apakah sabar ada batasnya atau tidak.

Sebagai permulaan, kita akan melihat satu ayat pada Surat Al Baqarah ayat 286

sabar1



Artinya : Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.

Dari ayat ini Allah telah menjamin bahwa ujian yang diberikan kepada manusia adalah sesuai dengan kemampuan orang yang bersangkutan. Namun, kenapa ujian itu nampak berat hingga terlontar dari mulut kita bahwa sabar itu ada batasnya serta menjastifikasi bahwa kita boleh membalas suatu kejahatan dikarenakan batas kesabaran kita telah habis. Lalu dimana letak jaminan Allah di atas? Ato jangan-jangan jaminan itu hanya untuk umat-umat terbaik zaman dahulu?

Jika kita telaah lebih jauh kandungan makna dari ayat itu, kita akan mendapatkan bahwa manuasia adalah makhluk yang tidak terbatas dalam menghadapi suatu masalah. Kita telah dijamin mampu untuk menghadapi setiap permasalahan yang menerpa kehidupan kita. Hal ini diakibatkan karena Allah tidak akan memberikan cobaan di luar batas kemampuan kita.

Lalu, kenapa terkadang kita sudah memeras otak banting tulang untuk menemukan jawaban suatu masalah namun hasilnya malah berantakan. Seakan kitalah yang berada pada batas maksimal kemampuan kita tetapi maslah itu tidak kunjung terselesaikan.

Klo itu yang terjadi, mungkin kita bias Instrospeksi diri. Bisa jadi kemampuan itu ada pada diri kita namun kita tidak sadar bahwa kemampuan itu ada, atau mungkin kita belum mengoptimalkan kemampuan itu. Begitu juga dengan sabar. Ayat di atas menjamin bahwa Allah tidak akan memberikan cobaan di luar batas kesabaran kita, jadi dengan demikian tak ada masalah yang mempu menembus batas kesabaran kita. Namun kenapa kita selalu merasa batas kesabaran itu telah habis, jawabnya ada pada diri kita sendiri. Kira-kira kenapa yah ?, yang jelas batas kesabaran kita tidak akan habis jika dihadapkan pada persoalan-persoalan di dunia.

Banyak ayat yang bercerita tentang keutamaan sabar. Salah satunya adalah Al Baqarah ayat 45

sabar2



Artinya:

Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu’,

Dari ayat diatas dapat kita tarik pelajaran bahwa sabar adalah penolong. Bayangkan klo kesabaran kita habis, berarti penolongnya juga habis. Waduuuuu, kasian gak ada yang nolong.

Lalu ayat 155 surat Al Baqarah juga menjelaskan tentang keutamaan sabar.

sabar4

Artinya :

Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar.

Banyak sekali ayat-ayat yang menjelaskan tentang manfaat dan keutamaan sabar, hingga di Al qur’an terdapat 92 ayat yang mengandung kata sabar, dan kesemua ayat menjanjikan bahwa sifat sabar itu adalah sifat yang mulia dan mendapat keutamaan di sisi Allah SWT.

Nah, Sekarang masihkah kita bisa mengatakan bahwa “Kan sabar itu ada batasnya . . . .” Happy